Di tempat inilah Anggota Komisi XII DPR-RI Fraksi PKS, Ir. H. Ateng Sutisna, MBA, merawat warisan leluhur dengan sentuhan intelektual dan rasa cinta yang mendalam.
Bagi Ateng, budaya bukan artefak masa lalu, melainkan denyut kehidupan yang harus terus dirawat dan dikembangkan.
Di padepokan miliknya, beragam komunitas tumbuh dalam harmoni: pencak silat, seni dan budaya, juru kawih, komunitas tari, hingga ibu-ibu senam.
Menariknya, ekosistem ini juga diperkuat oleh komunitas peternak domba dan kambing yang menjadi bagian penting dalam merawat tradisi berbasis agrikultur.
Salah satu inovasi budaya yang menyita perhatian adalah resepsi pernikahan domba, yang digelar secara khidmat dan simbolik di lingkungan padepokan tersebut.
Tradisi ini bukan sekadar tontonan unik, tetapi sarat filosofi dan nilai sejarah. Ateng menjelaskan bahwa budaya seperti ini mengingatkan kembali pada masa ketika pertanian dan peternakan tidak terlepas dari ritual dan seni, seperti Ngawinkeun Tebu.
Bahkan di Majalengka sendiri dikenal tradisi kawin batu dan kawin cai, yang merefleksikan hubungan spiritual antara manusia dan alam.
Prosesi “pernikahan” domba di Padepokan Domba Tangkas Condra Wisesa berlangsung layaknya pernikahan manusia.
Dimulai dari seserahan, penyambutan calon pengantin, kehadiran penghulu, khutbah nikah, hingga ijab kabul.
Setelah itu, pasangan domba diarak dengan penuh sukacita sebelum menjalani masa “bulan madu” selama satu bulan di kandang khusus (pengantin) lalu dipisahkan kembali.
Keunikan tradisi ini semakin terasa karena adanya pembalikan peran dari kebiasaan manusia.
Jika pada umumnya resepsi digelar di pihak perempuan dan mahar diberikan oleh laki-laki, maka dalam pernikahan domba justru sebaliknya: domba betina datang ke tempat jantan dan memberikan “mahar”. Sebuah simbol yang mengandung makna fleksibilitas nilai dalam budaya.
Lebih dari sekadar seremoni, kegiatan ini memiliki nilai strategis dalam dunia peternakan.
Melalui tradisi ini, silsilah domba dapat ditelusuri secara rinci—mulai dari asal-usul, karakter tanduk, hingga rekam jejak prestasi. Semua dicatat dengan tertib, menjadi basis data penting dalam pengembangan kualitas domba tangkas.
Salah satu peristiwa yang menarik perhatian publik adalah pernikahan seekor domba jantan bernama Aril Bin Noah, yang “mempersunting” empat domba betina dari berbagai daerah: Manohara dari Majalaya, Roroh Sumaroh dari Garut, serta Ini Surini dari Tasikmalaya dan dari Sukabumi.
Peristiwa ini menjadi simbol persilangan genetik unggul yang dibingkai dalam balutan budaya lokal.
Ke depan, Ateng Sutisna berkomitmen menjadikan tradisi ini sebagai event tahunan yang terpusat di Padepokan Domba Tangkas Condra Wisesa.
Ia berharap, kegiatan ini tidak hanya menjadi daya tarik budaya, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi masyarakat, memperkuat identitas lokal, dan menjadi ruang edukasi lintas generasi.
Di tengah derasnya arus modernisasi, padepokan ini berdiri sebagai penanda bahwa budaya tidak pernah benar-benar hilang—ia hanya menunggu untuk dihidupkan kembali, dengan cinta, kesadaran, dan keberanian untuk merawatnya.(*)
