Mengusung tema “Solid Sinergy Bernas Berkualitas”, momentum tersebut menjadi penanda dimulainya babak baru perjalanan UNMA menuju tata kelola kampus yang lebih modern, transparan, dan bermartabat.
Dalam prosesi yang dihadiri unsur yayasan, sivitas akademika, serta berbagai tamu undangan itu, Dr. Otong Syuhada, S.H., M.H. resmi menerima amanah sebagai Rektor UNMA.
Amanah tersebut, menurutnya, bukan sekadar simbol jabatan, melainkan tanggung jawab moral besar yang harus dijalankan dengan kesungguhan dan keberanian untuk membawa perubahan nyata bagi dunia pendidikan tinggi di Majalengka.
Dengan nada tegas namun penuh kesadaran, Otong menekankan bahwa kepemimpinan perguruan tinggi tidak boleh berjalan secara seremonial semata.
Menurutnya, universitas harus dikelola secara profesional dalam seluruh aspek, mulai dari tata kelola institusi, pengembangan sumber daya manusia, hingga manfaat konkret yang dirasakan masyarakat luas.
“Saya berkomitmen, ketika diberikan amanat sebagai pemimpin, maka harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Kalau dipandang tidak mampu, saya siap mundur,” ujarnya di hadapan peserta pleno.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa kepemimpinan baru UNMA akan dibangun di atas fondasi profesionalisme dan integritas.
Otong menilai, seorang rektor bukan hanya pemegang jabatan administratif, melainkan penjaga arah moral dan kualitas institusi. Karena itu, ia menegaskan akan menempatkan figur-figur yang memiliki kapasitas, kapabilitas, serta integritas dalam menjalankan roda organisasi kampus.
Bagi Otong, kemajuan universitas tidak cukup hanya diukur dari capaian akademik semata, tetapi juga dari nilai-nilai etik dan moral yang hidup di dalamnya.
Ia memastikan bahwa kepemimpinannya akan memberi ruang besar bagi penguatan nilai keagamaan, etika, dan budaya integritas sebagai identitas utama kampus.
“Integritas menjadi hal utama. Nilai moral, etik, dan keagamaan akan kami tekankan dalam membangun UNMA,” katanya.
Di balik optimisme itu, Otong juga tidak menutup mata terhadap berbagai pekerjaan rumah yang menanti.
Mantan Dekan Fakultas Hukum ini mengakui tantangan UNMA ke depan cukup kompleks, mulai dari persoalan transparansi, pengelolaan keuangan, kejelasan program kerja, hingga capaian institusi yang harus dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka kepada publik.
Meski demikian, ia percaya bahwa pembenahan tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan membutuhkan kerja kolektif seluruh elemen kampus.
Dengan semangat kolaborasi dan tanggung jawab bersama, dirinya berharap amanah kepemimpinan ini dapat dijalankan secara maksimal demi membawa UNMA menjadi perguruan tinggi yang semakin dipercaya masyarakat.
“Yang jelas, kepemimpinan ini merupakan amanat yang harus diemban dan dijalankan sebaik mungkin,” pungkasnya.(*)
