Dindingnya menghitam dan mulai rapuh dimakan usia. Atap gentengnya sebagian telah bergeser, bahkan ada yang hampir runtuh.
Ketika hujan turun, air dengan mudah merembes masuk, menjadikan setiap malam hujan sebagai saat yang penuh kecemasan bagi penghuninya.
Rumah itu milik Ibu Nasmi (65), seorang perempuan lanjut usia yang menjalani hari-hari dalam kesunyian dan keterbatasan.
Bangunan sederhana yang ia tempati kini sudah masuk dalam kategori Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Di dalamnya, kondisi tak kalah memprihatinkan.
Sebagian rangka atap tampak miring, perabot rumah tangga tersusun seadanya, sementara dapur sederhana menjadi saksi bagaimana kehidupan dijalani dengan segala keterbatasan.
Bagi Ibu Nasmi, rumah itu bukan sekadar tempat berteduh. Ia adalah satu-satunya ruang yang tersisa untuk bertahan hidup.
Kondisi atap rumah sudah mulai ambruk
Di usia yang tidak lagi muda, ia hanya bisa menjalani hari dengan harapan sederhana: memiliki tempat tinggal yang lebih aman dan layak.
Kondisi ini pun memantik keprihatinan warga sekitar. Mereka berharap kisah Ibu Nasmi tidak sekadar menjadi cerita sunyi yang tenggelam di balik tembok-tembok desa, tetapi dapat sampai ke telinga para pengambil kebijakan.
Bagi masyarakat, program pemerintah seperti perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) maupun bantuan sosial sejatinya hadir untuk menjangkau warga yang benar-benar membutuhkan.
“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah. Ibu Nasmi sudah lama tinggal di rumah seperti itu,” ujar salah seorang warga sekitar yang enggan disebutkan namanya, Minggu, 15 Maret 2026.
Kisah ini menjadi potret kecil dari realitas yang masih terjadi di berbagai pelosok daerah: ketika sebagian warga harus bertahan hidup dalam kondisi yang jauh dari kata layak.
Bagi Ibu Nasmi, uluran tangan pemerintah bukan hanya soal bantuan materi. Ia adalah harapan, tentang rumah yang tidak lagi bocor saat hujan datang, tentang tempat tinggal yang aman untuk menghabiskan sisa usia, dan tentang kehadiran negara di tengah rakyatnya yang paling membutuhkan.
Hingga berita ini dipublikasikan, awak media masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak Pemerintah Desa Lojikobong maupun Kecamatan Sumberjaya guna memperoleh penjelasan lebih lanjut terkait kondisi tersebut serta kemungkinan adanya program bantuan bagi warga yang membutuhkan.
Di sudut sunyi Desa Lojikobong, rumah rapuh itu masih berdiri. Bersama seorang ibu yang tetap bertahan—sambil menunggu apakah kepedulian akhirnya benar-benar datang. (*)

