Komisi II DPRD Kabupaten Majalengka membuka ruang audiensi bersama pengelola BIJB Kertajati dan Forum Nalar Majalengka untuk membahas masa depan bandara yang sejak awal digadang-gadang menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi Jawa Barat bagian timur.
Audiensi yang berlangsung di Gedung DPRD Kabupaten Majalengka, Rabu (7/10/2026), tersebut tidak sekadar membicarakan aktivitas penerbangan.
Forum tersebut turut mengupas persoalan konektivitas, pengembangan kawasan aerospace, rencana Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) bersama PT Dirgantara Indonesia (PTDI), hingga persoalan lahan yang dinilai masih menjadi salah satu pekerjaan rumah dalam pengembangan BIJB.
Komisi II DPRD Majalengka menjadi ruang penting bagi Forum Nalar untuk menyampaikan berbagai gagasan dan kegelisahan masyarakat mengenai keberlanjutan BIJB Kertajati.
Salah satu isu paling mencuat adalah minimnya penerbangan komersial domestik di Kertajati.
Dalam audiensi tersebut disampaikan bahwa aktivitas penerbangan BIJB saat ini masih banyak bertumpu pada penerbangan haji dan umrah, sementara penerbangan komersial domestik belum kembali berjalan sebagaimana harapan masyarakat.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena BIJB sejak awal dibangun dengan visi yang lebih besar daripada sekadar menjadi bandara musiman.
Koordinator Forum Nalar Majalengka, Kenny, menyampaikan harapan agar penerbangan domestik dapat kembali dibuka di BIJB Kertajati.
Menurutnya, sebelum pandemi COVID-19 dan sebelum Bandara Husein Sastranegara kembali diaktifkan, aktivitas penerbangan dari Kertajati sempat menunjukkan geliat yang cukup kuat.
“Kami berharap BIJB kembali memiliki penerbangan domestik, bukan hanya mengandalkan haji dan umrah. Sebelum COVID dan sebelum Husein diaktifkan kembali, Kertajati sempat ramai. Artinya, potensi itu sebenarnya ada,” ujar Kenny.
Namun, pihak BIJB dalam audiensi tersebut juga menjelaskan bahwa pembukaan kembali penerbangan domestik menghadapi tantangan tersendiri, terutama setelah Bandara Husein Sastranegara kembali beroperasi.
Persaingan dua bandara tersebut dinilai dapat memengaruhi tingkat keterisian penumpang dan keberlangsungan rute penerbangan.
Karena itu, persoalan BIJB tidak cukup diselesaikan hanya dengan membuka rute, tetapi membutuhkan kebijakan transportasi dan konektivitas yang terintegrasi.
Komisi II Soroti Persoalan Konektivitas
Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Majalengka, Dasim Raden Pamungkas, turut menyoroti persoalan konektivitas yang menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan daya tarik BIJB.
Menurutnya, masyarakat akan mempertimbangkan kemudahan akses ketika menentukan pilihan moda transportasi.
Keberadaan jaringan transportasi lain, termasuk layanan kereta cepat menuju Jakarta, membuat masyarakat memiliki alternatif perjalanan.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi BIJB untuk membangun ekosistem transportasi yang mampu menarik masyarakat menggunakan Kertajati.
Karena itu, menurut Forum Nalar, keberadaan BIJB harus didukung dengan konektivitas darat yang mudah, cepat, terjangkau, dan terintegrasi dengan pusat-pusat aktivitas masyarakat.
Aerospace dan MRO Jangan Berhenti di Atas Kertas
Selain persoalan penerbangan, audiensi juga membahas rencana pengembangan kawasan aerospace melalui kerja sama BIJB dengan PT Dirgantara Indonesia.
Pengembangan sektor aerospace dan MRO dinilai dapat menjadi alternatif sumber aktivitas ekonomi ketika penerbangan komersial belum mencapai kondisi optimal.
Namun, Forum Nalar mengingatkan agar rencana tersebut tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman atau sekadar menjadi konsep pengembangan kawasan.
Angga Pangestu dari Forum Nalar Majalengka mengatakan setiap kerja sama strategis harus memiliki ukuran keberhasilan dan dampak ekonomi yang jelas.
“Kalau kerja sama aerospace dengan PTDI belum bisa menunjukkan secara pasti berapa keuntungan yang akan didapat, setidaknya harus dihitung dan dimaksimalkan dampak ekonominya. Jangan sampai hanya menjadi kerja sama di atas kertas,” kata Angga.
Menurutnya, aktivitas aerospace dan MRO idealnya dapat memberikan kontribusi terhadap pendapatan BIJB sekaligus menciptakan multiplier effect bagi masyarakat dan perekonomian daerah.
“Harapannya ada keuntungan yang bisa membantu biaya operasional BIJB. Kalau kemudian bisa menghasilkan keuntungan, tentu itu jauh lebih baik. Yang penting jangan terus-menerus rugi,” tegasnya.
Persoalan Lahan Ikut Menjadi Sorotan
Dalam pembahasan pengembangan aerospace, persoalan lahan juga muncul sebagai salah satu tantangan yang perlu segera mendapatkan penyelesaian.
Pihak BIJB menyampaikan bahwa sebagian lahan yang dibutuhkan untuk pengembangan kawasan masih berada di bawah kepemilikan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Forum Nalar menilai kepastian status dan pengelolaan lahan menjadi bagian penting agar rencana pengembangan kawasan tidak terus tertahan persoalan administratif maupun kewenangan.
Dalam konteks tersebut, Komisi II DPRD Majalengka memiliki posisi strategis untuk terus mengawal aspirasi daerah dan mendorong komunikasi lintas pemerintahan, khususnya menyangkut kepentingan BIJB sebagai aset strategis Jawa Barat yang berada di Kabupaten Majalengka.
Forum Nalar Dorong Enam Langkah Strategis
Forum Nalar Majalengka menyampaikan sejumlah rekomendasi yang diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah dan DPRD.
Pertama, diperlukan penguatan komunikasi dan diplomasi kebijakan antara pemerintah daerah, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, serta pemerintah pusat agar posisi BIJB sebagai salah satu pusat konektivitas udara di wilayah timur Jawa Barat semakin kuat.
Kedua, persoalan lahan perlu mendapatkan kepastian sehingga pengembangan kawasan BIJB, termasuk aerospace dan MRO bersama PTDI, dapat berjalan dengan lebih jelas.
Ketiga, pemerintah dan pemangku kepentingan didorong mengkaji pembukaan kembali penerbangan domestik serta peningkatan frekuensi penerbangan yang memiliki potensi pasar.
Keempat, konektivitas menuju BIJB perlu diperkuat melalui transportasi publik yang terjangkau. Skema insentif maupun subsidi transportasi dinilai dapat menjadi salah satu pilihan kebijakan untuk meningkatkan minat masyarakat menggunakan Kertajati.
Kelima, pemerintah daerah di wilayah Ciayumajakuning perlu memperkuat promosi pariwisata secara bersama-sama.
BIJB diharapkan tidak hanya dipandang sebagai tempat naik dan turun pesawat, tetapi sebagai pintu masuk wisatawan menuju Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan.
Keenam, pengembangan aerospace dan MRO bersama PTDI harus memiliki target yang terukur, termasuk manfaat ekonomi, penciptaan lapangan kerja, aktivitas industri, serta kontribusinya terhadap keberlanjutan BIJB.
Forum Nalar juga mendorong adanya kejelasan fungsi antara kepentingan sipil dan militer di kawasan bandara sehingga fungsi BIJB sebagai simpul transportasi dan penggerak ekonomi dapat tetap diperkuat sesuai ketentuan dan peruntukannya.
Komisi II: Audiensi Sebagai Ruang Menyerap Aspirasi
Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Majalengka, Dasim Raden Pamungkas, saat dimintai keterangan lebih lanjut menyampaikan bahwa posisi Komisi II dalam audiensi tersebut pada prinsipnya adalah memfasilitasi Forum Nalar untuk menyampaikan aspirasi dan berdiskusi langsung dengan pihak BIJB Kertajati.
Meski demikian, audiensi tersebut menjadi momentum penting bagi DPRD Majalengka untuk mendengar langsung berbagai persoalan dan gagasan masyarakat mengenai masa depan BIJB.
Bagi Forum Nalar, keberadaan BIJB harus menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Bandara yang dibangun dengan investasi besar tersebut diharapkan tidak hanya berdiri megah, tetapi juga memiliki denyut ekonomi yang memberikan dampak terhadap masyarakat dan daerah.
“Kami tidak ingin Kertajati hanya menjadi monumen megah tanpa denyut nadi ekonomi yang nyata. Kami siap menjadi mitra kritis sekaligus fasilitator promosi jika pemerintah mau membuka diri untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh,” ujar Kenny.
Ia menegaskan, Forum Nalar akan terus mengawal perkembangan BIJB dan membuka ruang dialog lanjutan dengan DPRD maupun pemerintah di tingkat provinsi.
“Yang kami inginkan sederhana: Kertajati hidup, berkembang, dan benar-benar menjadi penggerak ekonomi Jawa Barat wilayah timur,” pungkasnya.(*)
