Ketersediaan air menjadi penentu agar sawah tetap produktif, terutama ketika musim kemarau mengancam keberlangsungan masa tanam.
Pemerintah Kabupaten Majalengka pun terus mendorong penguatan infrastruktur irigasi untuk menjaga produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani.
Bupati Majalengka, Drs. H. Eman Suherman, MM, didampingi Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3), menyampaikan hal tersebut saat memberikan keterangan di kantor DKP3, Senin (26/10/2026).
Eman mengatakan, pemerintah terus menempuh berbagai strategi untuk memperkuat ketahanan pangan, mulai dari kemudahan akses pupuk, dukungan terhadap petani, hingga pembangunan infrastruktur pengairan di wilayah yang rawan kekeringan.
Menurutnya, kebijakan pemerintah dalam mendukung sektor pertanian diharapkan mampu memberikan kepastian bagi petani, baik dalam proses produksi maupun pemasaran hasil panen.
“Tujuan kita adalah bagaimana petani bisa sejahtera. Berbagai bantuan dan perhatian pemerintah harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh para petani,” ujarnya.
Salah satu perhatian penting, lanjut Eman, adalah bantuan pembangunan atau peningkatan sarana irigasi untuk wilayah yang mengalami keterbatasan air.
Infrastruktur tersebut diharapkan dapat membantu petani menjaga pola tanam agar tidak terus bergantung pada kondisi cuaca.
Ia menjelaskan, dukungan irigasi menjadi penting untuk mendorong peningkatan indeks pertanaman, sehingga lahan pertanian berpeluang ditanami lebih dari satu kali dalam setahun sesuai ketersediaan air dan kondisi teknis lahan.
Bupati juga mengingatkan kelompok tani dan gabungan kelompok tani (gapoktan) yang nantinya mengelola fasilitas tersebut agar menjalankan tanggung jawab secara amanah, menjaga kualitas pekerjaan, serta memastikan pelaksanaan pembangunan sesuai spesifikasi teknis.
“Jangan sampai bantuan ini tidak dikelola dengan baik. Harus ada rasa memiliki dan tanggung jawab, karena tujuan utamanya adalah memberikan manfaat bagi petani,” tegasnya.
Eman menilai, keberhasilan program irigasi tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran atau selesainya pembangunan fisik.
Lebih dari itu, keberlanjutan pemeliharaan dan kesungguhan pengelola menjadi faktor penting agar fasilitas tersebut benar-benar berfungsi dalam jangka panjang.
Ia kemudian menyinggung wilayah Kertajati yang selama ini dikenal menghadapi persoalan kekeringan.
Menurutnya, upaya pembangunan sodetan yang telah diusulkan dan mendapat respons dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) turut memberikan harapan bagi peningkatan produktivitas pertanian di kawasan tersebut.
Bagi Majalengka, penguatan irigasi bukan sekadar pembangunan infrastruktur, melainkan investasi bagi keberlangsungan hidup petani dan ketahanan pangan daerah.
Karena itu, pemerintah, pengelola kelompok tani, serta seluruh pihak terkait diharapkan memastikan setiap bantuan dilaksanakan secara transparan, tepat sasaran, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sebab, keberhasilan pembangunan pertanian pada akhirnya tidak hanya diukur dari besarnya bantuan yang digelontorkan, tetapi dari seberapa jauh manfaatnya dirasakan petani: sawah tetap terairi, masa tanam lebih terjaga, dan hasil panen mampu menopang kesejahteraan keluarga mereka.(*)
