Pada Selasa (5/5/2026), Komisi II mengundang mahasiswa yang tergabung dalam Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Lembaga Pengawas Pelayanan Publik (LP3), serta jajaran Direksi PT Sindangkasih Multi Usaha (SMU) dalam sebuah Rapat Dengar Pendapat yang sarat makna.
Pertemuan ini tidak sekadar forum formal, melainkan cermin kegelisahan publik terhadap tata kelola Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi lokal.
Mahasiswa dari PMII menyuarakan sejumlah catatan kritis, mulai dari transparansi rekrutmen manajerial, pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), hingga kejelasan laporan tahunan perusahaan.
Ketua Komisi II DPRD Majalengka, Dasim Raden Pamungkas, S.H., menegaskan bahwa akar persoalan yang mengemuka saat ini terletak pada belum dilaksanakannya RUPS hingga hari ini.
Padahal, forum tersebut menjadi kunci dalam menentukan arah kebijakan dan pertanggungjawaban perusahaan.
“Permasalahan utamanya adalah RUPS yang belum dilaksanakan. Ini penting karena menyangkut kejelasan posisi perusahaan di mata pemegang saham,” ujar Dasim.
Dari pihak direksi PT SMU, dijelaskan bahwa penundaan RUPS bukan tanpa alasan. Saat ini, perusahaan tengah menunggu hasil audit independen yang akan menjadi dasar penghitungan kerugian negara.
Namun, di sisi lain, proses penentuan kerugian negara tersebut juga masih bergulir dalam ranah hukum dan akan diputuskan melalui pengadilan.
Situasi ini menciptakan ruang abu-abu antara kepentingan administratif dan kepastian hukum, sebuah dilema yang tidak sederhana.
Dalam nada yang tegas namun tetap memberi ruang, Dasim menyampaikan sikap politik DPRD yakni tidak akan ada persetujuan penyertaan modal sebelum kondisi PT SMU benar-benar sehat.
“Kami sudah sampaikan ke Kabag Ekbang, Sekda, bahkan ke Bupati, bahwa direksi ini masih baru dan PT SMU dalam keadaan sakit akibat persoalan sebelumnya,"
"Maka kami beri ruang untuk berinovasi dan berkarya. Sembuhkan dulu ‘penyakitnya’, baru kita bicara soal penyertaan modal,” tegasnya.
Di tengah tuntutan akuntabilitas, langkah kehati-hatian ini sekaligus menjadi pesan bahwa kepercayaan tidak diberikan secara cuma-cuma, melainkan harus dibangun melalui transparansi, kinerja, dan integritas.
Rapat tersebut pun berakhir bukan dengan kesimpulan final, melainkan dengan satu pesan yang menggema: masa depan PT SMU akan sangat ditentukan oleh keberanian untuk berbenah, dan kesungguhan untuk menjawab kritik dengan kerja nyata.(*)
