Majalengka || MEDIA JURNALPOST– Lebih dari 20 warga Jatiwangi resmi mengajukan modal usaha melalui program dana hibah UMKM Tahun Anggaran 2026 ke tingkat kabupaten dan provinsi, Jumat (26 Desember). Pengajuan ini menjadi penanda kuat bahwa denyut ekonomi rakyat terus bergerak, meski dalam keterbatasan.
Insya Allah, proses survei direncanakan berlangsung pada Januari atau Februari mendatang. Harapan pun menggantung: agar modal usaha itu benar-benar menjadi bahan bakar bagi mimpi-mimpi kecil yang ingin tumbuh besar.
Yogi Trs menegaskan, UMKM bukan sekadar aktivitas berdagang kecil-kecilan, melainkan fondasi ekonomi kerakyatan.
“UMKM sangat dibutuhkan masyarakat kecil untuk membuka lapangan kerja dan mendongkrak perekonomian. Dari usaha sederhana, lahir kemandirian,” ujarnya.
Secara substansial, UMKM adalah tulang punggung ekonomi nasional. Sektor ini menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, penggerak ekonomi lokal, sekaligus jaring pengaman sosial bagi keluarga berpenghasilan rendah. Keberadaannya membantu pemerataan pembangunan, mengurangi kesenjangan, hingga memperkuat ketahanan ekonomi saat krisis melanda.
Tak hanya itu, UMKM juga mendorong inovasi dan kreativitas, mengurangi ketergantungan impor melalui produksi dalam negeri, bahkan berpotensi menyumbang devisa ketika naik kelas ke pasar ekspor. Dari desa hingga kota, UMKM membangun ekosistem pemberdayaan dan kolaborasi yang menumbuhkan optimisme kolektif.
Dana hibah UMKM sendiri bersumber dari APBN, APBD, program CSR BUMN dan swasta, hingga dukungan lembaga internasional. Penyalurannya dilakukan melalui dinas terkait di daerah, dengan proses seleksi dan verifikasi yang ketat.
Kini, lebih dari 20 pelaku usaha di Jatiwangi tengah menanti hasil. Di balik berkas-berkas pengajuan itu, tersimpan tekad untuk bangkit—membangun usaha, membuka peluang kerja, dan menggerakkan roda ekonomi dari bawah. Sebab ketika UMKM tumbuh, harapan rakyat ikut menguat.(*)
(Tarsidin)
