Majalengka Expo 2026 Dibuka: Usia 186 Tahun Jadi Tonggak Kematangan, Investasi dan UMKM Melaju Bersama


Majalengka || MEDIA JURNALPOST—
Di usia yang kian matang, Kabupaten Majalengka tidak memilih untuk menoleh ke belakang. Ia justru melangkah maju dengan keyakinan baru.


Wakil Bupati Majalengka, Dena Muhammad Ramdhan, secara resmi membuka Majalengka Expo 2026, sebuah perhelatan strategis yang menjadi denyut utama perayaan Hari Jadi Kabupaten Majalengka ke-186.


Bagi Dena, angka 186 bukan sekadar hitungan waktu yang tercetak di kalender sejarah. Ia adalah simbol kedewasaan daerah—fase ketika Majalengka tak lagi hanya membangun, tetapi menata arah masa depan.


Sebuah kematangan yang harus diterjemahkan menjadi keberanian mengambil peran lebih besar di panggung ekonomi regional hingga global.


“Usia 186 bukanlah sekadar angka, melainkan pembuktian menuju Majalengka Langkung Sae,” tegas Dena saat membuka acara, Selasa (3/2/2026).


Majalengka Expo 2026 dirancang bukan sebagai pameran seremonial semata, melainkan sebagai ruang strategis yang mempertemukan potensi lokal dengan peluang ekonomi modern.


Di dalamnya, terjalin narasi besar tentang investasi, inovasi, dan kemandirian ekonomi rakyat.


Salah satu tujuan utama expo ini adalah membuka keran investasi seluas-luasnya. Pemerintah daerah ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa Majalengka memiliki daya tarik kuat: posisi geografis yang strategis, sumber daya yang kompetitif, serta iklim usaha yang kian kondusif.


Dengan fondasi tersebut, Majalengka diproyeksikan menjadi magnet ekonomi baru di Jawa Barat—siap bersaing, bahkan di level global.


Dena optimistis, melalui koordinasi yang solid dan ekosistem yang terbangun dalam Majalengka Expo, investasi dari luar daerah hingga mancanegara dapat segera terealisasi.


Investasi tersebut diharapkan menjadi penggerak percepatan pembangunan infrastruktur dan penguatan ekonomi daerah.


Namun, di balik ambisi besar menarik modal dan teknologi, Wabup Dena menegaskan bahwa Majalengka tidak akan meninggalkan akar kekuatannya: ekonomi kerakyatan.


UMKM ditempatkan sebagai jantung stabilitas ekonomi daerah, sekaligus fondasi kemandirian masyarakat.


“Pemerintah memiliki kewajiban moral untuk membela UMKM,”
ujarnya.


Pembelaan itu, menurut Dena, harus hadir dalam bentuk kebijakan nyata—bukan sekadar slogan. Ia menekankan pentingnya memberi ruang tumbuh bagi pelaku UMKM agar mampu naik kelas, mandiri, dan berdaya saing.


Tanpa dukungan penuh dari negara, potensi kreatif masyarakat hanya akan menjadi peluang yang tak pernah benar-benar mekar.


Salah satu langkah konkret yang ditekankan adalah reformasi perizinan. Dena menginstruksikan agar rantai birokrasi dipangkas, prosedur dipermudah, dan legalitas usaha dipercepat.


Dengan kepastian hukum dan kemudahan administrasi, produk-produk asli Majalengka diyakini mampu menembus pasar ritel modern hingga pasar internasional dengan rasa percaya diri yang lebih kuat.


Menutup rangkaian pembukaan, Wabup berharap Majalengka Expo 2026 menjadi titik balik kebangkitan ekonomi—sebuah momentum bersama untuk menjawab tantangan pasca-pandemi dan perubahan zaman.


Dari tanah yang berusia 186 tahun ini, Majalengka ingin menegaskan satu pesan: matang dalam usia, berani dalam visi, dan teguh membela rakyatnya.(*)

(Uum)

Lebih baru Lebih lama