Rp9,3 Miliar Digelontorkan! Bank Majalengka Bersiap Naik Kelas, Modal Nyaris Rp30 Miliar

MAJALENGKA||MEDIA JURNALPOST— Bank Majalengka sedang memasuki babak baru. Bukan sekadar soal menambah modal, tetapi tentang bagaimana bank milik daerah itu dipersiapkan untuk berubah menjadi kekuatan ekonomi yang lebih besar melalui transformasi dari Perumda menjadi PT Perseroda.

Angka Rp9,3 miliar kini menjadi salah satu sorotan utama. Pemerintah Kabupaten Majalengka berencana menggelontorkan tambahan modal tersebut melalui APBD 2027.

Jika terealisasi, modal Bank Majalengka diproyeksikan melonjak dari Rp20,8 miliar menjadi Rp29,9 miliar.

Dengan kata lain, Bank Majalengka sedang didorong untuk mendekati level modal Rp30 miliar.

Suntikan dana itu bukan sekadar angka dalam dokumen anggaran, melainkan bagian dari strategi memperkuat fondasi bank sebelum memasuki era baru sebagai PT Perseroda.

Langkah tersebut mendapat pijakan awal melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Dalam forum tersebut, pemegang saham menyetujui kapitalisasi cadangan menjadi modal disetor sebagai bagian dari proses memperkuat struktur permodalan bank.

Direktur Utama Bank Majalengka, Asep Muhammad Jamaludin, menegaskan bahwa proses tersebut harus dibedakan dengan penyertaan modal Rp9,3 miliar yang direncanakan pada Februari 2027.

“Yang disepakati dalam RUPS saat ini adalah kapitalisasi cadangan menjadi modal disetor. Sedangkan penyertaan modal tahun 2027 merupakan tambahan dana baru dari pemerintah daerah,” ujar Asep seusai rapat di Pendopo, Selasa (8/9/2026).

Bukan Sekadar Tambah Modal

Transformasi Bank Majalengka menjadi PT Perseroda membawa konsekuensi yang lebih besar.

Bank daerah tidak lagi hanya dituntut bertahan, tetapi harus mampu berkembang, memperluas bisnis, meningkatkan daya saing, sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih nyata bagi daerah.

Menurut Asep, kondisi permodalan Bank Majalengka saat ini berada di angka Rp20,8 miliar. Dengan tambahan Rp9,3 miliar pada 2027, total modal diproyeksikan mencapai Rp29,9 miliar.

“Posisi modal kita saat ini Rp20,8 miliar. Kalau nanti ditambah Rp9,3 miliar, totalnya menjadi Rp29,9 miliar, hampir Rp30 miliar,” katanya.

Besarnya tambahan modal tersebut menunjukkan bahwa pemerintah daerah tengah menempatkan penguatan Bank Majalengka sebagai bagian dari agenda strategis.

Modal yang lebih kuat diharapkan memberi ruang bagi bank untuk memperbesar kapasitas usaha dan memperluas kontribusinya terhadap perekonomian Majalengka.

Namun, besarnya modal tentu harus berbanding lurus dengan manfaat yang diberikan. Sebagai badan usaha milik daerah, Bank Majalengka juga memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Untuk tahun 2026, kontribusi PAD dari Bank Majalengka ditargetkan berada di kisaran Rp2,1 miliar.

“Target PAD tahun 2026 kita berada di kisaran Rp2,1 miliar,” ujar Asep.

Kini tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana membuat Bank Majalengka memiliki modal lebih besar.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: seberapa besar modal tersebut mampu diubah menjadi kekuatan ekonomi, keuntungan, dan manfaat bagi masyarakat Majalengka?

Sebab ketika sebuah bank daerah naik kelas, ekspektasi publik pun ikut naik. Transformasi menjadi PT Perseroda pada akhirnya harus dibuktikan bukan hanya melalui perubahan status badan hukum, tetapi melalui kinerja, profesionalisme, ekspansi usaha, dan kontribusi nyata bagi daerah.

Bank Majalengka kini berada di ambang fase baru. Rp9,3 miliar menjadi pintu masuk, hampir Rp30 miliar menjadi fondasi, dan kinerja akan menjadi ukuran sesungguhnya apakah transformasi tersebut layak disebut sebagai lompatan besar bagi ekonomi Majalengka.(*)

(herfir)

Lebih baru Lebih lama