Delapan Nama Belum Pulang: Jurnalis, TNI-Polri dan Seniman Majalengka Menundukkan Kepala dalam Munajat

MAJALENGKA|| MEDIA JURNALPOST— Malam di halaman Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Majalengka, Sabtu (19/9/2026), terasa berbeda.

Bukan sekadar pertemuan para pekerja pers, tetapi ruang sunyi untuk menitipkan doa bagi delapan orang yang hingga kini belum kembali dari perjalanan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.

Jurnalis, anggota TNI-Polri, dan seniman Majalengka berkumpul dalam munajat dan mengheningkan cipta.

Mereka mengenang lima jurnalis dan tiga kru speedboat yang hilang kontak saat menjalankan perjalanan peliputan di perairan Selat Sunda pada 7 September 2026.

Suasana semakin emosional ketika seniman teater Ocky Sandi membacakan puisi.

Kata-kata dalam bait puisi menjadi simbol kegelisahan sekaligus harapan dari mereka yang masih menunggu kabar.

Setelah itu, istighosah bersama digelar sebagai bentuk dukungan moral bagi keluarga dan rekan-rekan delapan orang yang belum ditemukan.

Ketua PWI Majalengka, Pardi Supardi, mengatakan peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa tugas jurnalistik tidak selalu berlangsung dalam kondisi aman.

Menurutnya, wartawan memiliki tanggung jawab menyampaikan informasi kepada publik, namun aspek keselamatan tetap harus menjadi perhatian utama ketika menjalankan tugas di lapangan.

“Makna yang bisa kita ambil dari kegiatan ini adalah bagaimana tugas seorang jurnalis itu sangat berat dan juga bisa mengancam nyawa,” ujar Pardi.

Ia berharap peristiwa tersebut tidak hanya dikenang sebagai sebuah musibah, tetapi juga menjadi pelajaran penting bagi insan pers untuk semakin memperhitungkan risiko dalam setiap kegiatan peliputan, khususnya ketika berada di kawasan dengan potensi bahaya.

Dukungan juga datang dari jajaran kepolisian.

Kapolsek Majalengka Kota Iptu Piki bersama Kanit Intelkam Aiptu Herawan hadir dalam kegiatan tersebut.

Dari unsur TNI, perwakilan Koramil Kota Majalengka turut mengikuti doa bersama.

Iptu Piki menyampaikan bahwa kehadiran aparat merupakan bentuk solidaritas terhadap para jurnalis dan kru kapal yang hingga kini belum ditemukan.

“Kami bersama-sama mendoakan agar delapan orang yang belum ditemukan segera mendapatkan titik terang dan bisa segera ditemukan. Semoga keluarga yang masih menunggu juga diberikan kekuatan,” katanya.

Delapan orang yang masih dalam pencarian terdiri atas M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu Agency, dan Donal Husni sebagai jurnalis lepas.

Tiga lainnya merupakan kru speedboat, yakni Warta/Surahman sebagai kapten, Sukarman sebagai ABK, serta Heriyanto sebagai pemandu.

Rombongan tersebut berangkat dari kawasan Carita pada 7 September 2026 untuk menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.

Setelah komunikasi terputus, operasi SAR gabungan dilakukan selama 10 hari dengan melibatkan sejumlah unsur pencarian.

Namun, hingga operasi resmi dihentikan, keberadaan kedelapan orang tersebut belum diketahui.

Di Majalengka, doa kemudian menjadi cara lain untuk terus menjaga harapan.

Sebab di balik setiap nama yang disebut malam itu, ada keluarga yang masih menunggu, ada rekan yang masih berharap, dan ada satu pertanyaan yang belum memperoleh jawaban: kapan mereka kembali pulang?. (*)

(herfir)

Lebih baru Lebih lama