Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Kuliah Umum Nasional bertajuk "Membangun Resiliensi Generasi Muda di Tengah Ancaman Narkotika" yang digelar di Auditorium UNMA, Kamis (6/8/2026).
Kegiatan yang dihadiri unsur Pemerintah Kabupaten Majalengka, Badan Narkotika Nasional (BNN), aparat penegak hukum, civitas akademika, serta ratusan mahasiswa dan siswa SMA itu menghadirkan Komjen Pol. Dr. (H.C) Suyudi Ario Seto, S.I.K., S.H., M.Si. sebagai narasumber utama.
Mengawali kegiatan, Rektor Universitas Majalengka, Dr. H. Otong Syuhada, S.H., M.H., menegaskan bahwa ancaman narkotika telah berkembang menjadi persoalan multidimensi yang tidak hanya berkaitan dengan pelanggaran hukum, tetapi juga mengancam kualitas sumber daya manusia, moral, kesehatan, hingga masa depan bangsa.
Menurutnya, dari perspektif ilmiah, narkotika bekerja dengan merusak sistem saraf pusat, mengganggu brain reward system, serta menurunkan fungsi prefrontal cortex yang berperan dalam kemampuan berpikir, mengambil keputusan, dan mengendalikan perilaku.
Dampaknya tidak hanya menyebabkan ketergantungan, tetapi juga memicu gangguan kognitif dan kejiwaan yang berkepanjangan.
"Bonus Demografi Indonesia tidak akan berarti apabila generasi mudanya kehilangan arah akibat narkoba. Karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk membangun karakter, meningkatkan literasi, serta memperkuat ketahanan mahasiswa terhadap berbagai ancaman penyalahgunaan narkotika," tegas Dr. Otong Syuhada.
Sebagai bentuk keseriusan, UNMA terus mengembangkan pendekatan berbasis evidence-based melalui penguatan riset lintas disiplin, sistem deteksi dini, konseling sebaya, tes urine berkala secara transparan, hingga implementasi Program Kampus Bersinar (Bersih Narkoba) sebagai budaya akademik yang sehat, produktif, dan berintegritas.
Sementara itu, dalam kuliah umumnya, Komjen Pol. Dr. (H.C) Suyudi Ario Seto, S.I.K., S.H., M.Si. mengingatkan bahwa narkotika merupakan ancaman luar biasa yang mampu menghancurkan masa depan individu sekaligus melemahkan daya saing bangsa.
Ia menekankan pentingnya membangun resiliensi generasi muda, yakni kemampuan untuk tetap teguh pada nilai-nilai moral, memiliki daya tahan menghadapi tekanan lingkungan, serta berani menolak segala bentuk penyimpangan yang dapat merusak masa depan.
"Mahasiswa bukan hanya calon pemimpin bangsa, tetapi juga agen perubahan. Mereka harus menjadi pelopor gerakan anti-narkoba dengan membangun karakter yang kuat, integritas yang tinggi, dan keberanian mengatakan tidak terhadap narkotika," tegas Komjen Pol. Suyudi Ario Seto.
Pada kesempatan yang sama, Bupati Majalengka H. Eman Suherman mengungkapkan bahwa meningkatnya pembangunan dan mobilitas masyarakat di Kabupaten Majalengka turut membawa tantangan baru berupa potensi meningkatnya peredaran narkotika.
Berdasarkan data yang dipaparkan, sepanjang 2025 aparat berhasil mengungkap puluhan kasus penyalahgunaan narkotika. Hingga pertengahan 2026, puluhan kasus kembali berhasil diungkap dengan barang bukti berupa sabu, ganja, ekstasi, obat keras tertentu, hingga cairan bibit tembakau sintetis.
Pemerintah Kabupaten Majalengka pun terus memperkuat sinergi bersama BNN RI, BNN Provinsi Jawa Barat, BNN Kabupaten Kuningan, aparat penegak hukum, perguruan tinggi, serta seluruh elemen masyarakat untuk memperluas edukasi dan pencegahan sejak usia dini.
Kuliah Umum Nasional ini menjadi bukti bahwa perang melawan narkotika harus dimulai dari lingkungan pendidikan.
Dengan kolaborasi yang kuat antara kampus, pemerintah, aparat penegak hukum, dan masyarakat, diharapkan lahir generasi muda yang unggul secara intelektual, kokoh secara moral, serta mampu menjadi fondasi utama menuju Indonesia Emas 2045 yang bersih dari narkoba.(*)
