Semangat itulah yang mengemuka dalam Kuliah Umum Pembelajaran Ekopedagogi yang diikuti mahasiswa Program Magister Pendidikan Dasar Pascasarjana dan Pendidikan Profesi Universitas Majalengka. Kegiatan tersebut menjadi ruang intelektual untuk mempertemukan gagasan akademik dengan tantangan nyata dunia pendidikan di tengah perubahan lingkungan yang semakin kompleks.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka, H. Rd. Umar Ma'ruf, S.Sos., M.Si., hadir memberikan arahan sekaligus penguatan kepada para peserta.
Ia menekankan bahwa pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian, karakter, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
“Ekopedagogi bukan sekadar konsep pembelajaran tentang lingkungan. Ini adalah cara membangun kesadaran bahwa manusia memiliki tanggung jawab terhadap alam. Pendidikan harus mampu membentuk generasi yang berpikir kritis, memiliki kepedulian, dan mampu mengambil peran dalam menjaga keberlanjutan kehidupan,” ujar Umar Ma'ruf, Selasa, (4/8/2026)
Menurutnya, tantangan pendidikan ke depan semakin besar. Perubahan iklim, kerusakan lingkungan, serta pola hidup masyarakat yang terus berkembang membutuhkan respons dunia pendidikan yang lebih adaptif dan kontekstual.
Karena itu, menurut Umar Ma'ruf, sekolah dan perguruan tinggi memiliki posisi strategis untuk menanamkan nilai-nilai ekologis sejak dini.
“Kita tidak cukup hanya mencetak peserta didik yang pintar. Kita harus mencetak manusia yang mampu menggunakan kecerdasannya untuk memberi manfaat bagi lingkungan dan masyarakat. Dari ruang kelas, kita tanamkan kesadaran bahwa menjaga alam adalah bagian dari menjaga masa depan,” katanya.
Kuliah umum tersebut juga menjadi momentum penting bagi mahasiswa sebagai calon akademisi, pendidik, dan penggerak perubahan untuk memperluas perspektif mengenai pendidikan yang berorientasi pada keberlanjutan.
Ekopedagogi pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan alam, tetapi juga tentang bagaimana pendidikan membentuk cara berpikir baru: bahwa setiap tindakan hari ini akan menentukan wajah kehidupan generasi mendatang.
Dari ruang kuliah, gagasan itu diharapkan tidak berhenti sebagai teori. Ia harus menjelma menjadi praktik, kebiasaan, dan gerakan nyata di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Sebab pendidikan sejatinya bukan hanya tentang menyiapkan anak menghadapi masa depan, tetapi juga tentang memastikan masa depan yang mereka hadapi tetap layak untuk dihuni.(*)
