Dari Balik Jeruji, Harapan Tak Boleh Mati: Iwan Gunawan Dorong Sinergi untuk Keluarga Warga Binaan

MAJALENGKA||MEDIA JURNALPOST— Kepedulian terhadap warga binaan tidak semestinya berhenti di balik tembok lembaga pemasyarakatan.

Di balik setiap putusan hukum, ada manusia yang sedang menjalani proses pembinaan, dan di luar sana ada keluarga yang tetap harus bertahan menghadapi tekanan ekonomi, sosial, bahkan beban psikologis.

Semangat itulah yang terus digaungkan Iwan Gunawan, yang akrab disapa Kang Papau, selaku Pimpinan Yayasan Pancar Kalijati Nusantara. Melalui kerja sama dengan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Majalengka, yayasan tersebut turut bergerak dalam bidang pendidikan melalui PKBM Darma Wangsa Nusantara, kegiatan sosial, serta pembinaan warga binaan dan keluarganya.

Kang Papau menyambut penuh rasa syukur kunjungan kerja Ketua TP PKK Kabupaten Majalengka, Hj. Iim Maemunah Suherman, ke Lapas Kelas IIB Majalengka, Kamis (20/8/2026).

Menurutnya, kunjungan tersebut menjadi pesan penting bahwa warga binaan dan keluarganya tidak boleh dipandang hanya dari kesalahan masa lalu, tetapi juga harus dilihat sebagai manusia yang memiliki kesempatan untuk memperbaiki kehidupan.

“Kami sangat bersyukur dan mengapresiasi kepedulian Ibu Hj. Iim Maemunah Suherman. Terima kasih karena sekarang semakin banyak pihak yang menunjukkan kepedulian kepada warga binaan,” ujar Iwan saat ditemui wartawan, Jum'at (21/8/2026).

Ia menyebut, perhatian terhadap warga binaan belakangan ini semakin terlihat melalui kunjungan sejumlah unsur masyarakat dan lembaga, termasuk anggota DPR RI, DPRD, hingga Ketua TP PKK Kabupaten Majalengka.

Bagi Kang Papau, rangkaian kunjungan tersebut jangan berhenti sebagai kegiatan seremonial. Ia berharap kepedulian itu dapat diterjemahkan menjadi program nyata, terukur, dan berkelanjutan, terutama untuk meningkatkan kualitas kehidupan warga binaan maupun keluarga mereka.

“Harapan kami, dari kunjungan-kunjungan ini lahir program yang benar-benar menyentuh kebutuhan mereka. Bukan hanya warga binaan, tetapi juga keluarga mereka yang sering kali menghadapi kesulitan ekonomi dan tekanan sosial,” katanya.

Ia menilai keluarga warga binaan kerap menghadapi persoalan berlapis. Selain persoalan ekonomi, stigma sosial, rasa malu, ketakutan, hingga tekanan mental dapat menjadi beban yang tidak terlihat.

Karena itu, menurutnya, pembinaan tidak cukup hanya diberikan kepada warga binaan selama berada di dalam lapas. Keluarga juga perlu mendapatkan perhatian, pendampingan, motivasi, serta akses pemberdayaan agar mampu tetap berdiri dan menjalani kehidupan secara bermartabat.

Kang Papau mengatakan pihaknya juga tengah mendorong kerja sama dengan Bapas Wilayah III Cirebon, khususnya dalam konteks pembinaan dan pendampingan di wilayah Majalengka.

Mendorong Hukum yang Tegak dan Berkeadilan

Tidak hanya berbicara mengenai pemberdayaan sosial, Kang Papau juga menegaskan komitmennya untuk terus mengadvokasi kepentingan masyarakat dan mendorong agar penegakan hukum berjalan secara profesional, transparan, proporsional, serta berkeadilan.

Ia berencana melakukan audiensi dengan sejumlah institusi, termasuk Polres, Kejaksaan Negeri, Pemerintah Kabupaten Majalengka dan jajaran terkait.

“Pokok utama kami adalah mendorong penegakan hukum yang baik dan benar, serta berkeadilan. Kami menemukan masih ada persoalan-persoalan yang menurut kami perlu mendapat perhatian,” tuturnya.

Ia kemudian menyinggung kasus dugaan pencurian beras yang melibatkan pasangan suami istri dengan kondisi ekonomi sulit dan memiliki anak-anak yang masih kecil. Menurutnya, perkara tersebut perlu dilihat secara utuh, termasuk latar belakang sosial dan kondisi kemanusiaan para pihak, tanpa mengabaikan proses hukum yang berlaku.

Kang Papau mengapresiasi perkembangan perkara tersebut setelah sang ibu akhirnya dibebaskan. Namun, ia menegaskan bahwa kasus semacam itu seharusnya menjadi bahan refleksi bersama mengenai bagaimana hukum dapat tetap ditegakkan sekaligus menghadirkan rasa keadilan dan kemanusiaan.

“Kami bukan ingin membela kesalahan. Kami ingin memastikan hukum berjalan dengan benar dan masyarakat mendapatkan keadilan,” tegasnya.

Ia bahkan menggagas adanya ruang tafakur atau refleksi di lingkungan Lapas Majalengka yang dapat dimanfaatkan siapa pun, termasuk para pejabat, sebagai ruang untuk merenungkan amanah kekuasaan dan tanggung jawab kepada masyarakat.

Menurutnya, jabatan bukan sekadar kewenangan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

“Kalau ada ruang tafakur, mudah-mudahan siapa pun yang datang bisa mengingat bahwa jabatan itu amanah. Kekuasaan harus digunakan sebesar-besarnya untuk kemaslahatan masyarakat,” ujarnya.

Kepedulian yang Harus Menjadi Gerakan

Sementara itu, dalam kunjungannya, Hj. Iim Maemunah Suherman membawa agenda “Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan melalui Pemberdayaan Perempuan di Lingkungan Lapas Kelas IIB Majalengka.” Ia didampingi jajaran Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Majalengka.

Dalam kesempatan tersebut, Hj. Iim mengajak warga binaan untuk tidak kehilangan harapan dan tetap menjadikan masa pembinaan sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri.

“Apapun keberadaan kita hari ini, kita patut bersyukur. Bagaimanapun keadaan kita hari ini merupakan ketentuan Gusti Allah dan pembelajaran bagi kita. Saya sangat berharap semua yang ada di sini tidak boleh patah arah, tidak boleh patah semangat,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi titik temu antara pembinaan dan pemberdayaan: bahwa manusia tidak boleh selamanya didefinisikan oleh kesalahan yang pernah dilakukan.

Bagi Kang Papau, sinergi antara pemerintah, lembaga pemasyarakatan, aparat penegak hukum, organisasi sosial, dunia pendidikan, dan masyarakat merupakan jalan penting untuk membangun sistem pembinaan yang lebih manusiawi.

“Mari bersinergi untuk negeri, bergandengan tangan untuk membantu masyarakat,” menjadi semangat yang ia dorong.

Ia menegaskan, kritik yang disampaikan pihaknya bukan lahir dari kepentingan pribadi ataupun kelompok.

“Kami mengkritik karena cinta kepada negara ini. Kami juga siap memberikan solusi dan bekerja untuk masyarakat, bangsa, dan negara. Bukan karena kepentingan kami,” pungkasnya.(*)

Lebih baru Lebih lama