Setelah menanti perbaikan sarana pendidikan, SDN Mirat III Leuwimunding kini mendapat kesempatan untuk berbenah melalui program revitalisasi sekolah yang bersumber dari bantuan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tahun 2026.
Tak tanggung-tanggung, anggaran sebesar Rp1,06 miliar dialokasikan untuk pembangunan dan perbaikan lima ruang kelas.
Proyek tersebut ditargetkan rampung dalam waktu lima bulan dan diharapkan mampu mengubah wajah lingkungan belajar menjadi lebih aman, nyaman, serta representatif bagi 176 siswa yang menuntut ilmu di sekolah tersebut.
Bagi Kepala SDN Mirat III, Ati Nurhayati, program revitalisasi ini bukan sekadar pembangunan fisik. Lebih dari itu, bantuan tersebut menjadi simbol hadirnya perhatian negara terhadap hak anak-anak untuk mendapatkan ruang pendidikan yang layak.
Dengan penuh rasa syukur, Ati menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terealisasinya program tersebut.
"Saya sebagai kepala sekolah beserta seluruh jajaran guru mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto, Kemendikdasmen, Bupati Majalengka, dan Kepala Dinas Pendidikan yang telah memperjuangkan serta mendukung sehingga sekolah kami memperoleh bantuan ini," kata Ati, Jumat (24/7/2026).
Ia berharap revitalisasi lima ruang kelas tersebut tidak hanya memperbaiki bangunan secara fisik, tetapi juga menghadirkan energi baru bagi proses belajar mengajar.
Sebab, ruang kelas bukan sekadar tempat berdirinya meja dan kursi. Di sanalah mimpi anak-anak dibentuk, karakter ditanamkan, dan masa depan bangsa perlahan dipersiapkan.
"Harapan kami, setelah direnovasi anak-anak bisa belajar dengan lebih nyaman dan para guru dapat melaksanakan pengabdian kepada negara dengan lebih baik," sambung dia, penuh harap.
Revitalisasi akan menyasar lima ruang kelas, mulai dari kelas 1 hingga kelas 5.
Selama pekerjaan konstruksi berlangsung, proses pembelajaran tidak dihentikan. Sekolah melakukan sejumlah penyesuaian agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan.
Sebagian siswa sementara mengikuti pembelajaran di gedung madrasah, sedangkan siswa kelas 1 menempati mushola sebagai ruang belajar sementara.
Kendati harus berpindah tempat, seluruh siswa tetap mengikuti kegiatan pembelajaran pada sesi pagi.
Bagi pihak sekolah, kondisi tersebut menjadi bagian dari perjuangan menuju perubahan. Ada ruang yang harus dipinjam, ada kenyamanan yang sementara harus dikorbankan, demi satu tujuan, yakni menghadirkan ruang belajar yang lebih baik untuk generasi penerus.
Proyek revitalisasi senilai Rp1,06 miliar tersebut ditargetkan selesai dalam kurun waktu lima bulan.
Setelah rampung, para siswa diharapkan dapat kembali menempati ruang kelas dengan kondisi yang lebih aman, nyaman, dan representatif.
Ati menilai, pembangunan sarana pendidikan harus menjadi gerakan bersama. Sebab, masih terdapat sekolah lain di wilayah Kecamatan Leuwimunding yang menurutnya membutuhkan perhatian dan perbaikan infrastruktur.
Dengan jumlah siswa mencapai 176 orang, SDN Mirat III menjadi salah satu gambaran bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak dapat dipisahkan dari ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai.
Kini, SDN Mirat III menatap masa depan dengan optimisme baru. Lima ruang kelas dibangun kembali, tetapi sesungguhnya yang sedang dipersiapkan bukan hanya sebuah bangunan.
Yang sedang dibangun adalah ruang bagi mimpi 176 anak untuk tumbuh, belajar, dan kelak membawa Majalengka menuju masa depan yang lebih baik yakni Majalengka Langkung Sae.(*)
