Jalan yang seharusnya menjadi nadi kehidupan justru berubah menjadi ujian harian, sempit, berkelok tajam, dan menanjak curam, seolah menantang siapa pun yang melintasinya.
Bagi warga, akses ini bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah penentu hidup yakni jalur menuju sekolah, pasar, layanan kesehatan, hingga harapan ekonomi.
Namun kenyataannya, medan berat yang harus dilalui kerap membuat perjalanan menjadi penuh risiko, terutama saat hujan turun, ketika tanah menjadi licin dan kendaraan rawan tergelincir.
“Kalau sudah hujan, kami lebih banyak pasrah. Jalan jadi sangat berbahaya, bahkan untuk sekadar keluar desa,” ungkap salah satu warga, menggambarkan kecemasan yang nyaris menjadi rutinitas, Jum'at, (1/5/2026).
Kondisi ini tidak hanya menghambat mobilitas, tetapi juga memperlambat laju ekonomi lokal.
Hasil pertanian sulit didistribusikan secara optimal, biaya transportasi meningkat, dan akses terhadap layanan dasar menjadi terbatas. Dalam sunyi perbukitan, ketimpangan terasa begitu nyata.
“Yang kami butuhkan bukan sekadar jalan, tapi kepastian. Supaya kami tidak terus merasa terisolasi,” tutur warga lainnya dengan nada lirih.
Kepala Desa Nunuk Baru melalui Kepala Urusan Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang), Wakub, mengungkapkan bahwa kondisi jalan tersebut sejatinya telah lama menjadi perhatian.
Namun, perbaikan terakhir dilakukan sekitar tahun 2015, dan hingga kini belum ada penanganan signifikan lanjutan.
“Mungkin sudah beberapa tumpuk proposal yang kami buat dan ajukan, mungkin sudah habis beberapa rim lah,” ujarnya, menggambarkan betapa panjangnya upaya yang telah ditempuh pemerintah desa.
Ia menjelaskan, jalan tersebut merupakan akses utama penghubung antar kecamatan yang sangat vital bagi aktivitas masyarakat.
Bahkan, di sepanjang jalur itu terdapat dua blok permukiman, yakni Dusun Lengkong dan Dusun Kadut, yang kini kian terisolasi akibat kondisi jalan yang memprihatinkan.
Menurutnya, warga dari kedua dusun tersebut kerap mengalami kesulitan saat hendak menuju pusat Desa Nunuk.
Untuk menghadiri kegiatan desa saja, mereka harus memutar melewati beberapa kecamatan lain. Sebuah ironi di tengah jarak geografis yang sebenarnya tidak terlalu jauh.
“Padahal kalau akses jalan Nunuk–Cihaur bagus, jaraknya hanya sekitar 3 sampai 4 kilometer saja,” jelasnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Majalengka, H. Iing Misbahuddin, SM., S.H., menyampaikan bahwa dirinya telah menyempatkan diri turun langsung menemui warga Desa Nunuk untuk mendengarkan aspirasi yang selama ini terpendam.
Ia mengungkapkan, masyarakat telah lama memimpikan adanya akses jalan yang menghubungkan Nunuk–Cihaur sebagai solusi atas keterisolasian wilayah tersebut.
“Saya menyempatkan diri untuk menemui dan mendengarkan langsung warga Nunuk. Mereka sudah lama memimpikan akses jalan Nunuk–Cihaur yang lebih layak dan aman,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, mengingat akses jalan merupakan kebutuhan dasar yang sangat menentukan kualitas hidup masyarakat.
“Saya meminta pemerintah daerah untuk segera menindaklanjuti keluh kesah warga ini. Infrastruktur jalan bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga menyangkut keadilan dan pemerataan pembangunan,” tegasnya.
Politisi PKS ini juga menilai bahwa pembukaan akses alternatif tidak hanya akan mempermudah mobilitas warga, tetapi juga membuka potensi ekonomi baru yang selama ini terhambat oleh keterbatasan infrastruktur.
Kini, di tengah sunyi jalan terjal yang mereka lalui, satu harapan terus menggema: agar janji tidak berhenti sebagai kata, tetapi menjelma menjadi jalan nyata—yang menghubungkan, menghidupkan, dan memulihkan harapan.(*)
Dari Nunuk, suara itu tidak meminta banyak, hanya jalan pulang yang lebih manusiawi.
