Dari Lapangan Sederhana Menuju Keabadian: Seruan Pulang dalam Khutbah Idul Fitri di BTN Munjul Indah

Majalengka || MEDIA JURNALPOST— Pagi itu, langit di BTN Munjul Indah, Kelurahan Majalengka Kulon, Kabupaten Majalengka, seakan turut bersaksi atas sujud-sujud yang mengalir penuh harap.

Di atas hamparan lapangan sederhana, gema takbir menggulung perlahan, menyatukan hati warga dalam satu ikatan suci: kembali kepada fitrah di hari kemenangan.

Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah pun dilaksanakan dengan khidmat.

Barisan demi barisan berdiri rapi, menghadap satu arah, seakan menegaskan bahwa di hadapan Sang Pencipta, tiada yang lebih mulia selain ketakwaan.

Di momen yang sarat makna ini, hadir bukan hanya tubuh-tubuh yang bersujud, tetapi juga jiwa-jiwa yang rindu akan ampunan.

Bertindak sebagai khotib, Agus Syuhada, M.H.I, menyampaikan khutbah dengan nada lantang dan menghujam relung hati.

Ia mengingatkan sebuah kebenaran yang tak pernah bisa ditawar: setiap yang bernyawa pasti akan menemui kematian.

Sebuah kepastian yang sering dilupakan manusia dalam hiruk-pikuk dunia yang fana.

“Yang menjadi pertanyaan bukanlah apakah kita akan mati,” tuturnya, “melainkan seperti apa kita akan kembali. Dalam keadaan apa ruh ini dipanggil pulang?”.

Kalimat itu menggema, menembus kesadaran jamaah, seakan mengetuk pintu batin yang lama terlelap.

Dalam lanjutan khutbahnya, ia mengutip firman Allah, “Yaa ayyuhal mutmainnah, irji’i ilaa rabbiki raadhiyatan mardhiyyah…”— wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai.

Sebuah panggilan suci, bukan sekadar untuk didengar, tetapi untuk direnungi dalam setiap denyut kehidupan.

Hari raya bukan sekadar perayaan kemenangan setelah sebulan berpuasa, melainkan momentum untuk menakar diri: sudahkah jiwa ini mencapai ketenangan itu? Sudahkah langkah-langkah kita mendekat kepada ridha-Nya, atau justru semakin menjauh dalam kelalaian?

Di penghujung ibadah, doa-doa dipanjatkan dengan lirih. Sebagian mata tak kuasa menahan air, larut dalam kesadaran bahwa hidup hanyalah persinggahan sementara. 

Bahwa suatu hari nanti, setiap insan akan benar-benar “pulang” — bukan ke rumah, melainkan ke hadirat Ilahi.

Idul Fitri di BTN Munjul Indah hari itu bukan hanya tentang kemenangan, tetapi juga tentang pengingat.

Tentang perjalanan yang pasti berakhir, dan tentang harapan agar ketika saat itu tiba, kita termasuk dalam golongan jiwa yang dipanggil dengan penuh kemuliaan.(*)

Lebih baru Lebih lama