MAJALENGKA || MEDIA JURNALPOST— Setahun telah berlalu, 20 Februari 2025. Sejak estafet kepemimpinan berada di tangan Bupati Majalengka, Drs. H. Eman Suherman, M.M., bersama Wakil Bupati Dena Muhamad Ramdhan.
Waktu yang tak panjang, namun cukup untuk memantik penilaian, harapan, sekaligus kritik dari masyarakat yang menitipkan masa depan daerah ini di pundak keduanya.
Di ruang digital, suara rakyat menemukan panggungnya. Sebuah akun Instagram lokal dengan akun @Info Majalengka menggelar survei kepuasan masyarakat atas kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati.
Akun tersebut mengunggah sebuah foto pasangan Bupati dan Wakil Bupati dengan memberikan caption "1 Tahun Memimpin, Bagaimana Kinerja Bupati Eman Suherman & Wabup Dena untuk Majalengka?".
Hingga saat ini, Sabtu, (21/2/2026) tercatat sekitar 2.312 tanggapan telah masuk.
Dari jumlah tersebut, 38% responden menyatakan puas, sementara 62% lainnya.menyatakan tidak puas.
Survei tersebut pun masih terus berjalan dan akan ditutup dalam dua hari ke depan, sehingga angka dan persentase masih sangat mungkin berubah.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah cermin ekspektasi, sekaligus pesan yang perlu dibaca dengan jernih.
Sebagian masyarakat mengapresiasi langkah-langkah pembenahan dan inovasi yang mulai terasa. Namun mayoritas responden yang menyatakan belum puas menjadi pengingat bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Sejumlah netizen mengeluhkan persoalan siltap (penghasilan tetap) perangkat desa yang dinilai belum sepenuhnya menjawab harapan kesejahteraan aparatur di lini terdepan pelayanan publik.
Perangkat desa adalah wajah pertama pemerintah di mata masyarakat. Ketika kesejahteraan mereka belum kokoh, pelayanan pun dikhawatirkan tak bisa berdiri tegap.
Tak sedikit pula yang menyoroti kondisi infrastruktur, terutama jalan rusak di wilayah utara Majalengka.
Jalan bukan sekadar bentangan aspal—ia adalah denyut ekonomi, jalur pendidikan, akses kesehatan, serta simpul peradaban desa dan kota.
Ketika jalan berlubang, yang terguncang bukan hanya kendaraan, tetapi juga rasa keadilan atas pembangunan yang merata.
Namun di antara kritik yang mengemuka, apresiasi pun tumbuh.
Beberapa warganet menilai adanya kemajuan dalam pola komunikasi pemerintahan. Sejumlah dinas dinilai lebih aktif, responsif, dan terbuka melalui media sosial.
Transparansi informasi dan kecepatan merespons aduan menjadi isyarat bahwa birokrasi perlahan bertransformasi—tidak lagi berjarak, tetapi hadir dalam genggaman.
Satu tahun kepemimpinan adalah fase evaluasi, bukan garis akhir. Ia adalah fondasi awal menuju visi besar: Majalengka Langkung SAE, Saekeun—lebih baik, dan terus dibenahi tanpa henti.
“Langkung SAE” bukan sekadar slogan, melainkan tekad memperbaiki kualitas pelayanan, infrastruktur, dan tata kelola pemerintahan.
Sementara “Saekeun” menjadi pengingat bahwa setiap kekurangan harus segera diperbaiki, setiap keluhan harus dijawab dengan kerja nyata, bukan sekadar janji.
Di persimpangan antara pujian dan kritik, kepemimpinan sejati diuji oleh keberanian mendengar dan keteguhan bertindak.
Demokrasi yang sehat lahir dari ruang dialog yang terbuka—tempat suara rakyat tidak hanya didengar, tetapi juga diterjemahkan menjadi kebijakan yang berpihak.
Majalengka hari ini adalah cermin harapan dan tantangan. Dan satu tahun pertama hanyalah halaman pembuka dari perjalanan panjang menuju Majalengka yang langkung sae—lebih adil, lebih maju, dan lebih bermartabat untuk seluruh warganya.(*)
(Catatan: Hingga berita ini diturunkan, redaksi belum meminta tanggapan dari Bupati dan Wakil Bupati terkait hasil survei serta respons netizen.)
