Majalengka || MEDIA JURNALPOST— Di tengah derasnya arus informasi yang tak lagi mengenal batas, Kepala Bidang Kewaspadaan Bakesbangpol Jawa Barat, H. Khoirul Naim, S.K.M., M.Epid, mengingatkan sebuah pesan tajam dan reflektif: siapa yang menguasai pikiran, dialah yang mampu memengaruhi dunia.
Pesan itu mengemuka dalam gelaran sosialisasi literasi digital dan anti-hoaks bertajuk “Nabedakeun Kaler Jeung Kidul"—sebuah tema yang sarat makna tentang pentingnya kemampuan membedakan yang benar dan yang menyesatkan, yang mencerahkan dan yang merusak, di Gedung Bapermin, Jl. Siti Armilah, Majalengka Kulon, Kabupaten Majalengka, Kamis, (12/2/2026).
Menurut Khoirul Naim, ruang digital hari ini bukan sekadar medium komunikasi, melainkan arena pertarungan ideologi.
Anak muda menjadi target utama penyebaran paham radikalisme, konten toksik, hingga manipulasi informasi yang dapat menggerus nalar kritis dan memecah persatuan.
“Banyak peradaban runtuh bukan karena perang, tetapi karena serangan digital yang menguasai cara berpikir masyarakatnya,”tegasnya.
Kegiatan yang diikuti ratusan peserta dari berbagai organisasi kepemudaan dan elemen masyarakat ini menjadi langkah strategis dalam perspektif pembangunan Jawa Barat sesuai arahan Gubernur.
Stabilitas sosial dan ketahanan ideologi, katanya, merupakan fondasi utama untuk melahirkan sumber daya manusia unggul, membangun kepercayaan publik, serta menjaga harmoni sosial.
Literasi digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Di tangan generasi muda yang cerdas dan kritis, ruang digital dapat menjadi kekuatan pembangunan. Namun tanpa kewaspadaan, ia bisa berubah menjadi celah perpecahan.
Melalui forum ini, Jawa Barat menegaskan komitmennya: membangun bukan hanya infrastruktur fisik, tetapi juga benteng pemikiran—agar masyarakat mampu membedakan “kaler jeung kidul”, antara fakta dan fitnah, antara persatuan dan propaganda.(*)
(herfir)
