Diskusi yang berlangsung santai namun sarat gagasan strategis tersebut menghadirkan narasumber akademisi Prof. Dr. Ika Jatnika, praktisi peternakan Ahmad Gufron, serta Camat Palasah Dhani Eka Rahadian.
Peserta kegiatan terdiri dari unsur birokrat, praktisi pertanian, penyuluh pertanian, kelompok tani, hingga komunitas yang konsen pada sektor pangan dan pertanian.
Owner sekaligus penyelenggara kegiatan, Jajang Ade Rukmana, menyampaikan bahwa forum ini dirancang sebagai ruang dialog terbuka antar pemangku kepentingan di bidang pangan.
Menurutnya, isu ketahanan pangan dan perubahan lingkungan membutuhkan kolaborasi lintas sektor agar solusi yang dihasilkan benar-benar aplikatif di lapangan.
“Ini merupakan diskusi santai bersama para pemangku kebijakan di bidang pangan, mulai dari birokrat, praktisi pertanian, penyuluh pertanian, kelompok tani hingga komunitas yang peduli pada sektor pertanian,"
"Karena berbicara tentang pertanian dan ketahanan pangan, kita harus melibatkan semua lini agar lahir kebijakan pemerintah yang solutif bagi petani dan dunia pertanian,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Prof. Ika Jatnika menekankan pentingnya model pertanian terintegrasi yang menggabungkan sektor tanaman pangan, peternakan, serta pengelolaan limbah organik menjadi satu sistem berkelanjutan. Pendekatan ini dinilai mampu mengurangi dampak perubahan lingkungan sekaligus meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani.
Sementara itu, Ahmad Gufron menyoroti peran integrasi peternakan dalam mendukung pertanian berkelanjutan, terutama melalui pemanfaatan limbah ternak sebagai pupuk organik yang dapat memperbaiki kesuburan tanah dan menekan ketergantungan pada pupuk kimia.
Camat Palasah, Dhani Eka Rahadian, mengapresiasi inisiatif kegiatan tersebut sebagai langkah strategis dalam memperkuat sinergi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha tani. Ia berharap hasil diskusi dapat menjadi rekomendasi kebijakan yang mendorong terciptanya sistem pertanian tangguh dan berkelanjutan di Majalengka.
Kegiatan ini diharapkan menjadi forum rutin untuk merumuskan strategi ketahanan pangan berbasis kearifan lokal, sekaligus memperkuat kesiapsiagaan sektor pertanian dalam menghadapi tantangan perubahan lingkungan di masa mendatang.(*)
(Masduki)
