Majalengka || MEDIA JURNALPOST— Langit mendung yang menggantung di perbukitan Malausma menjadi saksi langkah cepat Pemerintah Kabupaten Majalengka.
Di tengah kecemasan warga, Bupati Majalengka, Eman Suherman, turun langsung meninjau lokasi bencana tanah bergerak di Blok Godabaya, Desa Sukadana, Kecamatan Malausma, Minggu (15/2/2026).
Curah hujan dengan intensitas tinggi dalam beberapa waktu terakhir meningkatkan kadar air tanah secara drastis.
Kondisi tersebut membuat struktur tanah menjadi labil, terlebih kawasan itu berada di zona merah dengan tingkat kerentanan pergerakan tanah yang sangat tinggi.
Alam yang kehilangan keseimbangannya akhirnya bergerak—mencatatkan retakan sepanjang kurang lebih 339 meter dari puncak perbukitan.
Peristiwa yang terjadi pada Rabu, 11 Februari 2026 itu berdampak langsung pada 25 rumah. Sebanyak 35 kepala keluarga terpaksa mengungsi, sementara 128 jiwa lainnya berada dalam ancaman akibat kontur tanah yang labil dan berbukit.
Di lokasi kejadian, Bupati memastikan pemerintah daerah tidak tinggal diam.
Ia menegaskan bahwa Pemkab Majalengka bergerak cepat menangani dampak bencana yang memaksa sebagian warga meninggalkan rumah mereka demi keselamatan.
“Apabila masyarakat siap untuk direlokasi, kami akan mengusulkan ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Namun di sisi lain, Pemkab juga menyiapkan lahan relokasi di daerah yang lebih aman dan tidak jauh dari lokasi saat ini, agar warga tetap bisa beraktivitas seperti biasa,” ujar Bupati.
Langkah antisipatif tersebut ditempuh dengan mempertimbangkan keselamatan warga sebagai prioritas utama, sekaligus menjaga keberlanjutan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat.
Selama proses penanganan berlangsung, Pemkab Majalengka telah mendirikan tenda pengungsian sementara serta membuka dapur umum melalui Dinas Sosial guna memastikan kebutuhan logistik warga terpenuhi.
Kehadiran dapur umum menjadi simbol gotong royong—bahwa di tengah bencana, kepedulian tetap menyala.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Majalengka melalui Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos), Apip Supriyanto, menyampaikan bahwa pihaknya telah menyiapkan satu tenda pengungsian dan dapur umum di Desa Sukadana, Kecamatan Malausma.
Selain itu, Dinsos juga mendirikan tenda pengungsian di halaman Kecamatan Argapura menyusul bencana longsor di Blok Calingcing, Desa Sukasarikidul, Kecamatan Argapura.
Tak hanya fokus pada penanganan darurat, Bupati juga mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian hutan dan lingkungan sebagai benteng alami dari ancaman bencana.
“Kita harus bersama-sama menjaga hutan dan lingkungan. Jangan sampai terjadi kerusakan alam yang justru memperparah potensi bencana,” tegasnya.
Bencana ini menjadi pengingat bahwa hubungan manusia dan alam tak bisa dipisahkan.
Di balik retakan tanah dan rumah-rumah yang terdampak, terselip pelajaran tentang kewaspadaan, solidaritas, dan tanggung jawab bersama menjaga bumi agar tetap menjadi tempat tinggal yang aman bagi generasi mendatang.(*)
(Uum)
