Majalengka || MEDIA JURNALPOST--- 23 Februari — Hari ini bukan sekadar pergantian angka usia bagi Ketua DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Majalengka, Anto Febrianto, M.Pd.
Ia adalah penanda perjalanan, jeda untuk merenung, sekaligus titik tolak untuk melangkah lebih jauh dalam mengabdi pada generasi muda di tanah kelahirannya.
Di bawah langit Majalengka yang semakin dinamis, nama Anto Febrianto tumbuh bukan sekadar sebagai organisatoris, tetapi sebagai simpul harapan.
Dalam kepemimpinannya, KNPI tak hanya menjadi ruang seremonial, melainkan laboratorium gagasan—tempat anak-anak muda merawat idealisme dan belajar menyalakan lilin perubahan di tengah gelapnya apatisme.
Usia baru yang genap pada 23 Februari ini terasa lebih dari sekadar perayaan personal. Ia adalah refleksi tentang waktu yang tak pernah menunggu, tentang tanggung jawab yang kian berat, dan tentang komitmen yang tak boleh redup.
Di tengah tantangan zaman disrupsi digital, krisis kepercayaan, hingga kegamangan arah kepemudaan, Anto berdiri dengan keyakinan bahwa pemuda bukan hanya pelengkap demokrasi, melainkan fondasi masa depan.
“Pemuda harus berani berpikir, berani bersuara, dan berani bertindak,” begitu prinsip yang kerap ia gaungkan dalam berbagai forum.
Bagi Anto, organisasi bukan sekadar struktur, melainkan ruang pembelajaran karakter. Kepemimpinan bukan tentang kuasa, melainkan tentang keberanian memikul amanah.
Selain memimpin KNPI sebagai rumah besar organisasi pemuda, Anto juga dipercaya mengemban amanah sebagai ajudan Bupati Majalengka.
Peran ini bukan sekadar posisi administratif, tetapi simbol kepercayaan dan kedekatan dengan pusat pengambilan kebijakan daerah. Di sana, ia berdiri di antara dua dunia idealismenya sebagai aktivis pemuda dan realitas birokrasi pemerintahan.
Bagi banyak kalangan, kombinasi ini adalah kekuatan. Anto tidak hanya berbicara tentang perubahan dari mimbar organisasi, tetapi juga menyaksikan langsung denyut pemerintahan dari jarak yang sangat dekat.
Ia memahami bahwa gagasan besar harus menemukan jalannya dalam sistem, dan sistem membutuhkan energi muda untuk tetap relevan.
Ucapan selamat dan doa mengalir dari berbagai elemen kepemudaan, organisasi kemasyarakatan, hingga tokoh masyarakat.
Mereka menilai, di tangan Anto, KNPI Majalengka menemukan kembali ruhnya sebagai rumah besar pemuda inklusif, progresif, dan berorientasi pada karya nyata.
Momentum ulang tahun ini pun menjadi pengingat bahwa perjuangan belum usai. Bahwa usia hanyalah angka, sementara dedikasi adalah sikap.
Di usia barunya, Anto Febrianto tidak hanya merayakan hari lahir, tetapi memperbarui tekad: menjaga bara semangat pemuda Majalengka agar tak padam oleh waktu.
Sebab di setiap zaman, perubahan selalu menemukan jalannya melalui tangan-tangan muda yang tak lelah bermimpi. Dan di Majalengka, api itu masih menyala.(*)
(herfir)
