Di Saung Nganteur Kahayang, Sepiring Nasi Menjadi Bahasa Cinta: Makan Sepuasnya, Bayar Seikhlasnya

MAJALENGKA||MEDIA JURNALPOST— Di tengah riuh kehidupan yang kerap diukur dengan angka dan harga, sebuah ruang sederhana di kawasan wisata Saung Nganteur Kahayang, Desa Salagedang, Kecamatan Sukahaji, Kabupaten Majalengka, justru menghadirkan makna yang berbeda tentang berbagi.

Di tempat ini, makanan tidak sekadar disajikan untuk mengenyangkan perut. Ia menjadi jembatan kemanusiaan, tempat rasa syukur menemukan jalannya, dan kebaikan tumbuh tanpa banyak suara.

Adalah Waroeng Mimi Encas, sebuah warung makan yang mengusung konsep unik sekaligus menyentuh hati: "Makan sepuasnya, bayar seikhlasnya."

Konsep sederhana itu ternyata mampu mengetuk hati masyarakat. Ratusan warga datang silih berganti. Sebagian bahkan rela mengantre demi menikmati beragam hidangan khas yang tersedia.

Namun, lebih dari sekadar menikmati makanan, mereka datang untuk merasakan sebuah pengalaman sosial yang mungkin semakin langka: makan bersama dalam suasana kebersamaan dan saling percaya.

Pemilik tempat, Ir. H. Ateng Sutisna, MBA, yang juga merupakan anggota DPR RI dari Fraksi PKS Komisi XII, menjelaskan bahwa kawasan tersebut memiliki dua konsep warung yang berbeda.

Pertama, Waroeng Mimi Encas, yang hadir dengan semangat berbagi melalui konsep "silakan makan sepuasnya, bayar seikhlasnya." Pengunjung dipersilakan menikmati makanan yang tersedia sesuai kebutuhan dan kemampuan. Bahkan, bagi mereka yang benar-benar tidak mampu, makanan tetap dapat dinikmati tanpa harus membayar.

Sementara itu, konsep kedua hadir melalui Waroeng Joejoer, yang menyediakan beragam makanan ringan, minuman, hingga es krim dengan harga yang telah ditentukan. Harganya pun dibuat terjangkau, mulai dari Rp2.000 hingga Rp4.000.

Menariknya, sistem transaksi di Waroeng Joejoer dilakukan secara mandiri. Pengunjung cukup mengambil barang yang diinginkan, kemudian membayar sesuai harga yang tercantum.

"Kalau Waroeng Joejoer, harganya sudah ditentukan, ada yang Rp4.000 dan ada yang Rp2.000. Dari hasil penjualannya, setiap hari modalnya diambil, sedangkan keuntungannya disisihkan untuk santunan anak yatim," ujar H. Ateng Sutisna.

Gagasan mendirikan tempat tersebut, lanjutnya, berawal dari obrolan sederhana di lingkungan keluarga yang kemudian berkembang menjadi sebuah ikhtiar sosial.

"Awalnya dari obrolan keluarga. Kami ingin berbagi, karena di luar sana masih banyak yang kesulitan untuk makan," tuturnya.

Semangat sedekah kemudian menjadi napas utama dalam pengelolaan warung.

Di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar keuntungan, Waroeng Mimi Encas justru mencoba menghadirkan sebuah pesan bahwa berbagi tidak harus menunggu kaya, dan berbuat baik tidak harus menunggu memiliki banyak.

Warung ini buka setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 15.00 WIB, atau sampai makanan yang tersedia habis. Namun, kawasan tersebut tidak hanya menjadi tempat makan. Lingkungannya juga dimanfaatkan sebagai ruang aktivitas masyarakat.

Warga dapat menggunakan area tersebut untuk berbagai kegiatan, mulai dari senam, latihan silat, hingga aktivitas anak-anak.

Dengan demikian, tempat ini perlahan tumbuh bukan hanya sebagai warung, tetapi juga sebagai ruang publik yang mempertemukan masyarakat dalam suasana kebersamaan.

Salah seorang pengunjung, Maman (51), warga Talaga, sengaja datang dari jauh untuk melihat sekaligus merasakan langsung konsep unik yang ditawarkan tempat tersebut.

"Saya sengaja datang dari Talaga karena penasaran dengan konsep makan sepuasnya bayar seikhlasnya. Menurut saya, ini bukan hanya soal makanan, tetapi tentang bagaimana kita belajar berbagi dan menghargai sesama. Kalau konsep seperti ini terus dijaga, saya kira akan banyak orang yang tergerak untuk melakukan hal serupa," ungkap Maman.

Menurut Maman, konsep tersebut memberikan pengalaman yang berbeda. Ia melihat ada pesan moral yang kuat di balik sepiring makanan yang disajikan.

"Yang paling menyentuh adalah ketika kita sadar bahwa masih ada orang yang mau membuka ruang untuk mereka yang mungkin hari ini belum mampu membeli makanan. Ini sederhana, tetapi maknanya besar. Kita datang bukan hanya untuk makan, tetapi juga pulang membawa pelajaran tentang keikhlasan," katanya.

Di kawasan Saung Nganteur Kahayang, dua warung itu seakan menjadi dua wajah dari satu nilai yang sama: kejujuran dan kepedulian.

Jika Waroeng Mimi Encas mengajarkan bahwa seseorang boleh makan sepuasnya dan membayar seikhlasnya, maka Waroeng Joejoer mengajarkan bahwa keuntungan pun dapat dikembalikan kepada mereka yang membutuhkan, salah satunya melalui santunan bagi anak yatim.

Pada akhirnya, tempat ini seolah ingin menyampaikan pesan sederhana namun dalam: bahwa makanan akan habis ketika disantap, tetapi kebaikan yang dibagikan dengan ikhlas dapat tinggal lebih lama di dalam ingatan dan hati manusia.

Di tengah dunia yang kadang terasa semakin individualistis, Saung Nganteur Kahayang memilih jalan yang berbeda. Di sana, sepiring nasi bukan hanya tentang rasa kenyang, melainkan tentang rasa kemanusiaan.

Sebab, barangkali, kebahagiaan yang paling tulus bukanlah ketika kita memiliki banyak untuk diri sendiri, tetapi ketika apa yang kita miliki mampu menjadi alasan bagi orang lain untuk tersenyum.(*)

Lebih baru Lebih lama