Dari Majalengka untuk Indonesia: Baznas RI Soroti Inovasi Zakat yang Dinilai Mampu Mengubah Wajah Sosial-Ekonomi Daerah

MAJALENGKA||MEDIA JURNALPOST— Kabupaten Majalengka kembali mencuri perhatian di tingkat nasional. Kali ini, apresiasi datang dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas RI) yang menilai berbagai terobosan pengelolaan zakat di daerah tersebut layak dijadikan contoh bagi daerah lain di Indonesia.

Penilaian itu mengemuka dalam kegiatan Baznas Development Forum V bertema Penguatan Ekosistem Zakat Daerah untuk Akselerasi Transformasi Sosio-Ekonomi Masyarakat yang berlangsung di Gedung Yudha Karya Abadhi, Sabtu (23/05/2026) sore.

Forum berskala nasional tersebut dihadiri perwakilan Baznas kabupaten/kota dari berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua. Agenda ini menjadi ruang konsolidasi sekaligus pertukaran gagasan mengenai strategi penguatan tata kelola zakat di daerah.

Komisioner Badan Amil Zakat Nasional Bidang Organisasi, Kelembagaan dan Pembinaan, Saidah Sakwan, mengungkapkan bahwa Majalengka menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian khusus karena dinilai berhasil menghadirkan sistem pengelolaan zakat yang kuat berbasis regulasi.

“Majalengka telah menerapkan pemungutan zakat secara regulasi atau zakat by law. Dampaknya sangat bermanfaat untuk pengentasan kemiskinan di Majalengka,” kata Saidah kepada wartawan.

Menurutnya, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa zakat tidak hanya berfungsi sebagai kewajiban keagamaan, tetapi juga mampu menjadi instrumen strategis dalam memperkuat ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat.

Selain Majalengka, Baznas RI juga menyoroti sejumlah inovasi dari daerah lain di Jawa Barat yang dinilai memiliki potensi besar untuk direplikasi secara nasional. Salah satunya adalah model pengelolaan zakat berbasis SPPG di Tasikmalaya.

Saidah menjelaskan, para pelaku usaha SPPG di Tasikmalaya menghimpun zakat melalui Baznas, kemudian hasilnya kembali disalurkan guna memperkuat pelaku UMKM di sektor tersebut.

Tak hanya itu, Kabupaten Ciamis juga dinilai berhasil membangun konsolidasi Unit Pengumpul Zakat (UPZ) hingga tingkat desa, sehingga pengumpulan dan distribusi zakat dapat berjalan lebih terstruktur dan merata.

“Ciamis itu seluruh desanya bisa mengonsolidasikan UPZ Desa. Jadi ini bagian penting dari saling tukar pengalaman untuk membangun penguatan ekosistem zakat di daerah,” ujarnya.

Saidah menegaskan, keberhasilan pengelolaan zakat di Majalengka tidak terlepas dari dukungan nyata pemerintah daerah, baik melalui kebijakan maupun komitmen kepala daerah dalam memperkuat regulasi zakat.

“Majalengka telah menunjukkan itu dengan dukungan konkret dari bupati dan juga dukungan regulasi. Insyaallah praktik baik di Majalengka dan beberapa daerah di Jawa Barat ini akan direplikasi secara nasional,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kehadiran peserta dari berbagai provinsi menjadi momentum penting untuk mempelajari praktik-praktik pengelolaan zakat yang dinilai efektif dan berdampak nyata terhadap masyarakat.

Ke depan, Baznas RI berencana menyusun berbagai praktik baik tersebut menjadi formulasi kebijakan nasional agar dapat diterapkan lebih luas di berbagai daerah.

Menurut Saidah, inovasi menjadi kunci penting dalam pengelolaan zakat modern. Seluruh potensi zakat di daerah, kata dia, harus mampu dikonsolidasikan untuk membantu menjawab berbagai persoalan sosial yang belum sepenuhnya dapat ditangani melalui APBD.

“Seluruh dana yang dikelola Baznas daerah itu digunakan untuk kepentingan daerah. Kita ingin daerah punya contingency budget. Tangan kanan mungkin APBD, tangan kiri dana zakat,” ucapnya.

Ia juga menegaskan bahwa dana zakat harus hadir sebagai solusi konkret bagi persoalan mendesak masyarakat, mulai dari penanganan stunting hingga membantu anak-anak yang terkendala biaya pendidikan.

“Tidak boleh ada lagi anak stunting, tidak boleh lagi ada anak yang mau sekolah tapi tidak punya biaya. Apa yang tidak bisa diselesaikan APBD, kita harap bisa dibantu oleh Baznas,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Saidah turut mengapresiasi inovasi pendidikan karakter berbasis zakat yang dijalankan Baznas Majalengka melalui program tabungan sekolah dan Sedekah Infak Generasi Anak Peduli.

Ia menilai program tersebut menjadi langkah strategis dalam membangun budaya kepedulian sosial dan semangat berbagi sejak usia dini.

“Anak-anak diajarkan membiasakan diri bersedekah, berdonasi. Mereka juga dikenalkan dengan mustahik dan diajarkan menjadi amil supaya ada engagement antara mustahik dan muzakki,” tuturnya.

Saidah memastikan, inovasi-inovasi yang lahir dari Majalengka memiliki peluang besar untuk diadopsi menjadi kebijakan nasional apabila terus menunjukkan hasil yang efektif dan berkelanjutan.

“Sesegera mungkin akan kita formulasikan. Kalau ini terus menunjukkan hasil yang bagus, nanti bisa menjadi kebijakan nasional,” tandasnya.(*)

Lebih baru Lebih lama