MAJALENGKA||MEDIA JURNALPOST— Momentum peringatan Hari Kartini di Kabupaten Majalengka berubah menjadi ruang refleksi pendidikan yang penuh makna. Di tengah semangat emansipasi dan keberanian berpikir yang diwariskan Kartini, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Fajar Riza Ul Haq, turun langsung ke SDN 4 Majalengka Wetan untuk memantau pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi siswa kelas enam.
Kunjungan tersebut tidak sekadar seremonial. Di ruang-ruang ujian yang dipenuhi ketegangan dan harapan, Fajar memilih duduk dekat dengan para siswa, mendengar langsung suara mereka yang selama ini kerap tenggelam di balik angka dan sistem evaluasi. Sejumlah siswa mengaku mengalami kesulitan memahami beberapa soal TKA yang dinilai memiliki redaksi membingungkan dan berpotensi mengecoh peserta.
Situasi itu semakin kompleks ketika pelaksanaan ujian sempat terganggu akibat kondisi listrik yang tidak stabil. Gangguan teknis tersebut membuat konsentrasi siswa pecah di tengah pengerjaan soal berbasis komputer yang baru pertama kali diterapkan secara luas.
Namun, di balik berbagai kendala itu, suasana Hari Kartini justru menghadirkan pesan pendidikan yang lebih mendalam: bahwa sekolah bukan hanya tempat menguji kemampuan akademik, tetapi juga ruang untuk mendengar, memahami, dan memanusiakan peserta didik.
Di sela monitoring ujian, Wamendikdasmen juga menyempatkan diri berinteraksi dengan siswa yang sedang belajar menggambar di halaman sekolah. Momen sederhana itu menghadirkan nuansa hangat dan humanis, seolah menegaskan bahwa kreativitas dan keberanian berekspresi merupakan bagian penting dari pendidikan masa depan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka, Rd Umar Maruf, menjelaskan bahwa pelaksanaan TKA untuk siswa kelas enam berlangsung serentak mulai 20 hingga 30 April 2026 di berbagai sekolah di Majalengka.
Menurutnya, penerapan sistem TKA berbasis komputer tahun ini masih berada pada tahap awal penyesuaian, sehingga sejumlah tantangan teknis belum dapat dihindari, terutama terkait keterbatasan perangkat di sekolah.
“Karena ini masih tahap awal penerapan TKA berbasis komputer, tentu ada penyesuaian, termasuk keterbatasan perangkat yang ada di sekolah,” ujarnya.
Rd Umar Maruf menegaskan, pihaknya terus melakukan evaluasi agar pelaksanaan TKA ke depan berjalan lebih optimal, baik dari sisi kualitas soal maupun kesiapan sarana pendukung. Ia menilai, transformasi pendidikan digital tidak cukup hanya menghadirkan teknologi, tetapi juga harus memastikan setiap siswa memperoleh kenyamanan dan kesempatan belajar yang adil.
Peringatan Hari Kartini tahun ini akhirnya tidak hanya menjadi seremoni mengenang sejarah perjuangan perempuan Indonesia, tetapi juga menjadi cermin bahwa dunia pendidikan masih memiliki pekerjaan besar: menghadirkan sistem pembelajaran dan evaluasi yang lebih ramah, jujur, dan berpihak pada tumbuh kembang anak.(*)
