Jeritan dari Padasari: Ribuan Warga Bertahan di Pengungsian, Masa Depan 464 Rumah Terancam Tanah Bergerak


Slawi || MEDIA JURNALPOST—
Di tengah cuaca ekstrem dan ancaman hujan yang masih menghantui, duka mendalam menyelimuti Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara. Bayang-bayang kehilangan tempat tinggal kini menjadi kenyataan pahit bagi warga di 16 RT yang terdampak bencana tanah bergerak.

Kepala Desa Padasari menyampaikan bahwa hingga saat ini pergerakan tanah masih terus berlangsung dan kondisi wilayah dinilai sangat labil. Oleh karena itu, evakuasi warga harus dilakukan secara bertahap demi keselamatan bersama.

“Saat ini pergerakan tanah masih berlangsung. Kondisinya sangat labil dan kami harus bergerak cepat melakukan evakuasi bertahap demi keselamatan warga,” ungkap Kepala Desa Padasari dengan nada prihatin dalam laporan terbarunya, Senin, (9/2/26).

Data terkini menunjukkan dampak bencana ini sangat masif. Sebanyak 464 unit rumah mengalami kerusakan, dengan 205 rumah di antaranya hancur dan rusak berat hingga tidak layak huni. Kerusakan tersebut tersebar di sejumlah wilayah, meliputi:

RW 01: RT 01, 02, 03

RW 02: RT 06, 07, 08, 09

RW 03: RT 12, 13, 14, 15

RW 04: RT 10, 11, 16, 17, 18

Kondisi di posko pengungsian pun sangat memprihatinkan. Sebanyak 2.460 jiwa dari 596 kepala keluarga (KK) kini harus bertahan di sejumlah titik pengungsian darurat. Di antara mereka terdapat 216 lansia, 195 anak-anak, serta puluhan balita dan batita yang terpaksa tidur dalam keterbatasan. Bahkan, beberapa ibu hamil dan ibu menyusui harus bertahan di tengah situasi serba sulit.

Layanan kesehatan melaporkan 477 warga mulai jatuh sakit, dengan keluhan didominasi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) serta nyeri otot akibat kondisi pengungsian yang kurang ideal. Meski demikian, stok logistik seperti beras dan susu bayi saat ini masih diupayakan mencukupi melalui sistem satu pintu di pos lapangan. Namun, ketidakpastian masa depan tetap menghantui para pengungsi.

Terkait rencana relokasi, Kepala Desa Padasari menjelaskan bahwa lahan alternatif seluas ±6–7 hektare di kawasan Perhutani telah diidentifikasi. Meski begitu, warga masih harus bersabar menunggu hasil kajian geologi untuk memastikan lahan tersebut benar-benar aman untuk dihuni.

“Warga kami tidak hanya membutuhkan bantuan makan. Mereka butuh kepastian kapan bisa memiliki tempat tinggal yang aman kembali. Kami berharap kajian geologi dan proses relokasi dapat dipercepat sebelum masa tanggap darurat berakhir pada 16 Februari mendatang,” tegasnya.

Kini, warga Padasari hanya bisa menatap nanar puing-puing rumah mereka dari kejauhan, berharap bantuan nyata dan kebijakan cepat dari pemerintah dapat segera memberikan titik terang bagi masa depan yang kini terombang-ambing oleh bumi yang terus bergerak.(*)

(Muji)

Lebih baru Lebih lama